Menikmati festival budaya kelas dunia di Tenggarong | Liputan 24 Kalimantan Timur
www.AlvinAdam.com

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Menikmati festival budaya kelas dunia di Tenggarong

Posted by On 7:37 PM

Menikmati festival budaya kelas dunia di Tenggarong

Salah satu pertunjukan dalam Erau Adat Kutai dan International Folk Arts Festival .
Salah satu pertunjukan dalam Erau Adat Kutai dan International Folk Arts Festival . | Doni79 /Shutterstock

Bagi yang punya rencana bervakansi ke Kalimantan Timur akhir pekan ini, saksikan kemeriahan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2018 yang berlangsung 21-29 Juli.

Seluruh rangkaian acara EIFAF 2018 akan berlangsung di Kota Tenggarong , ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Wilayah ini berjarak sekitar 47 kilometer dari ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kukar, Sri Wahyuni dinukil detikcom perhelatan EIFAF menjadi salah satu jendela dunia untuk mengenal Indonesia. Kegiatan ini telah menjadi Kalender Even Pariwisata Nasional, diselenggarakan rutin pada pekan ketiga dan keempat setiap bulan Juli.

EIFAF juga tercatat sebagai salah satu dari ratusan even International Folk Arts Festival di dunia di bawah bendera CIOFF dunia yang bermarkas di Kota Paris, Perancis.
"Delegasi yang akan hadir berasal dari sembilan grup yaitu, Bulgaria, Slovakia, Polandia, China Taipei, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan India, serta delegasi kesenian dari negara-negara Afrika yang tergabung dalam Uni Afrika," terang Sri.

"Karena akhir Juli adalah masa-masa puncak liburan wisatawan dalam dan luar negeri. Jadi kita pilih pekan terakhir bulan Juli. Begitu pula untuk tahun 2018 ini," lanjutnya.

Dalam acara tersebut antara lain diisi dengan parade budaya internasional. Parade akan menampilkan kostum tradisional dari negara-negara pe serta, sejumlah upacara tradisional khas Kutai Kartanegara, lalu ada juga tradisi rakyat yang disebut Beseprah atau sarapan bersama, dan ritual Belimbur.

Acara Belimbur yang biasa digelar sebagai pamungkas Festival Erau, mempunyai makna membersihkan diri. Dalam acara ini warga saling menyiramkan air sebagai isyarat menyucikan diri. Bagi warga yang terkena air dilarang marah atau kesal, karena sukacita menjadi semangat acara ini.

"Selama pelaksanaan Erau, berbagai macam tabiat dan perbuatan yang kita lakukan tanpa menyadari, maka dengan Belimbur akan kembali bersih," ujar Menteri Pelestarian Nilai Budaya Adat Kesultanan Kutai Kartanegara, Haji Aji Pangeran Aryo Kusumo dinukil Liputan6.

Istilah erau berasal dari kata eroh yang dalam bahasa Melayu Kutai Tenggarong bermakna keramaian pesta ria atau secara umum dapat diartikan juga sebagai pesta rakyat.

Dahulu, erau merupakan hajatan besar bagi Kesultanan Kutai dan masyarakat di seluruh wilayah k ekuasaan yang kini mencakup sebagian besar wilayah Kalimantan Timur. Pada awalnya, perhelatan ini berlangsung selama 40 hari 40 malam dan diikuti oleh segenap lapisan masyarakat.

Menurut cerita turun temurun masyarakat Kutai, erau bermula sejak abad ke-12 Masehi. Catatan sejarah menyebutkan bahwa erau pertama kali berlangsung saat Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia belia. Ia di kemudian hari diangkat menjadi sultan pertama Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Erau yang dilangsungkan menurut tata cara Kesultanan Kutai terakhir kali diadakan pada tahun 1965. Kemudian, atas inisiatif pemerintah daerah dan izin dari pihak Kesultanan, tradisi ini mulai dihidupkan kembali pada tahun 1971.

Destinasi wisata sekitar Kota Tenggarong

Saat mengunjungi festival ini, sempatkan juga untuk Anda mampir ke sejumlah tempat wisata lain di sekitar Kota Tenggarong.

Taman rekreasi itu adalah Objek Wisata Pulau Kumala. Luas Pulau Kumala sendiri kurang lebih 81 Hektar.

Pulau Kumala sering juga disebut Pantai Kumala. Pulau Kumala adalah sebuah delta sungai yang sering terendam jika air Sungai Mahakam meluap.

Pada tahun 2002, Pulau Kumala resmi diresmikan sebagai objek wisata karena keindahan alamnya dan letaknya yang berada di tengah sungai Mahakam.

Tarif Masuk ke Wisata Pulau Kumala, untuk tiketnya sendiri bagi orang dewasa dikenakan biaya. Yaitu Rp7 ribu dan anak-anak hanya membayar tiket Rp5 ribu.

Tidak jauh dari Pulau Kumala, terdapat Museum Mulawarman yaitu sebuah bukti sejarah Kerajaan Kutai yang terkenal, di museum ini tersimpan berbagai koleksi benda-benda peninggalan masa keemasan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Dari Bandara Sepinggan, Balikpapan, pelancong dapat terbang ke Samarinda setiap hari. Di Kota Tenggarong, telah tersedia sejumlah hotel dan penginapan, namun bagi pelancong yang ingin menetap di Kota Samarinda, tersedia pilihan tempat menginap lebih banyak. Dari sana juga lebih cepat ke Tenggarong melalui per jalanan darat sekitar 1 jam saja.

Sumber: Berita Kalimantan Timur

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »